Aquaplaning, Resiko Berkendara Saat Hujan

Berkendara di musim hujan wajib memiliki kewaspadaan tinggi karena tingkat risiko kian bertambah. Salah satu bahaya yang selama ini kurang diperhatikan adalah genangan air yang bisa menimbulkan efek aquaplaning pada ban kendaraan. Aquaplaning atau disebut juga hydroplaning merupakan gejala dimana posisi ban saat melintasi lapisan tipis air di suatu permukaan yang tidak menapak dengan seutuhnya pada permukaan aspal. Diakibatkan oleh tekanan pada genangan air, biasanya akibat ban tidak bisa memecah atau mengurai genangan air. Hal ini menimbulkan kendaraan akan mudah mengalami hilang kendali dan tergelincir sehingga menimbulkan risiko.

hydroplane

Baca Juga : Penampilan terbaru Toyota Avanza “facelift” 2019

 

Aquaplaning merupakan kondisi yang tidak bisa diprediksi karena kontur jalanan tidak menentu. Pada kecepatan pelan, kondisi ini tidak memengaruhi apa-apa, tetapi pada kecepatan tinggi maka momentum atau terjangan ban akan membuat daya angkat ke atas yang mendorong permukaan ban. Ketika kendaraan melaju pada kecepatan rendah, tapak ban pasti akan mengikuti kontur jalan. Namun, saat kondisi jalan basah atau melewati genangan air, daya cengkeram ban bisa berkurang karena tidak mendapatkan traksi lepas traksinya dari permukaan jalan. Apalagi dalam kecepatan tinggi, traksi ban bisa lebih menurun secara signifikan.

jaga jarak berkendara

Yang berdampak sebuah mobil mungkin akan mengalami selip atau tergelincir dan bisa memutar posisi dengan sendirinya. Pada sepeda motor, aquaplaning bisa saja terjadi pada kecepatan rendah jika bannya tipis dan tingkat genangan airnya cukup dalam, yang berakibat  bisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Jika motor melintas pada genangan air sedalam 5  / 10 cm dengan kecepatan 40 km kemungkinan akan mengalami Aquaplaning. Karena adanya lift force(daya angkat) pada roda depan tersebut akibat kecepatan massa. Jika motor datang dengan kecepatan tinggi, berarti hempasan air yang mengangkat ke atas akan semakin besar.

Baca Juga : Batas aman mobil saat terobos banjir

 

kecepatan aquaplaning

Sebelum berkendara dianjurkan untuk mengecek dan mengganti ban. Kondisi ban yang sudah botak atau Threat Wear Indicator (TWI)-nya sudah mulai aus ditambah dengan profil ban yang tidak memadai saat kondisi hujan, akan menambah potensi pengendara mengalami aquaplaning.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terutama pada Kondisi Hujan, Pengendara perlu memperhatikan hal hal berikut :

  1. Perlambatlah laju kendaraan Anda saat melintasi genangan air untuk memperkecil risiko terjadinya selip dan menambah jarak aman dengan kendaraan di depan.
  2. Jangan pernah menginjak gas ketika melewati aquaplaning. Karena ada kemungkinan saat melewati aquaplaning, ban akan mengalami spin out di salah satu bagian atau bahkan dua ban sekaligus.
  3. Selalu siap dengan wiperkarena kemungkinan air akan naik ke kaca.

Baca Artikel lainnya : Hanya selisih 1 Jutaan, Mending beli Honda Brio atau Toyota Avanza?

Gejala Aquaplaning bisa dirasakan ketika kemudi tiba-tiba terasa ringan dan kendaraan tidak merespons gerakan kemudi. Gejala lain yang harus diwaspadai adalah adanya putaran mesin (RPM) naik turun secara tiba-tiba namun tanpa peningkatan kecepatan.

berkendara saat hujan

Jika mobil mengalami aquaplaning, hal yang harus segara dilakukan adalah mengurangi kecepatan tanpa melakukan pengereman dengan cara melaukan akselerasi secara bertahap. Tunggu sampai laju kendaraan melambat dan memungkinkan ban untuk mendapatkan kembali cengkeraman. Bila kendaraan sudah sampai tergelincir, Anda harus menjaga kemudi agar tetap kearah yang dituju sampai mobil bisa berjalan lurus lagi. Jagalah tekanan konstan dan ringan pada pedal gas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *