Mobil Listrik Plug-in Hybrid

Mobil Listrik PlugIn Hybrid Ternyata Lebih Berpolusi

Mobil Listrik Plug-In Hybrid – Mobil Plug-in Hybrid disebut-sebut lebih ramah lingkungan berkat penggunaan baterai listrik yang katanya bisa menghemat konsumsi bahan bakar. Sehingga mereka memberikannya label sebagai “mobil hijau”. Tapi benarkah hal tersebut ?. Ternyata beberapa waktu lalu terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa klaim PHEV (Plug-in Hybrid Vehicle) sebagai “mobil hijau” itu tidak sepenuhnya benar.

Kenyataannya mobil ini justru bisa menghasilkan lebih banyak zat berbahaya seperti karbondioksida (CO2) yang tiga kali lebih banyak dari klaimnya. Yang mana kesimpulan tersebut didapatkan berdasarkan pegujian dari kondisi nyatanya. Yang menunjukkan bahwa mobil berbahan bakar Bensin dengan mesin kecil menghasilkan polusi yang sedikit lebih “hijau” dibandingkan PHEV.

kekurangan Mobil Listrik Plug-in Hybrid

Jika menurut klaimnya Hybrid PlugIn ini menggunakan motor elektrik dari baterai untuk mendukung mesin pembakaran internal yang disebut-sebut lebih ramah. Karena berkat sokongan baterai ini membuat mesin lebih ringan bekerja dan berdampak pada berkurangnya penggunaan bahan bakar.

Bukti Penelitian

Melihat hasil studi yang didapat dari The Miles Consultancy di Crewe, Inggris, justru kenyataannya tidak semanis klaimnya PHEV. The Miles Consultancy mengaudit konsumsi bahan bakar mobil PHEV populer dari merek BMW, Mercedes-Benz, Mitsubishi dan Volkswagen. Dan mendapatkan temuan yang mencengangkan. Dengan hasil konsumsi bahan bakar yang lebih boros 2,5 sampai 3 kali dibandingkan pada iklannya.

“Dalam banyak kasus, kami melihat kendaraan plug-in hybrid tidak pernah di-charge, melakukan perjalanan panjang dan ini tidak cocok untuk penggunaannya,” kata Paul Hollick, managing director The Miles Consultancy dikutip dari Telegraph. Baca juga Harga Suzuki XL7

Salah satu sampelnya BMW. Sebanyak 187 mobil PHEV diuji dan mendapat angka rata-rata konsumsi bahan bakar cuma 6,7 liter/100 km (14,9 km/liter). Jauh dari figur klaim 2,1 liter/100 km (47,5 km/liter). Begitupun kandungan dari CO2 yang dihasilkan. Juga 3 kali lebih banyak saat diuji dalam kondisi berkendara di dunia nyata.

Mobil Listrik Plug-in

Hasil mengejutkan tersebut bukan hanya dari satu uji coba saja. Karena terdapat lagi sebuah penelitian di Norwegia pada 2018 lalu. yang mendapatkan hasil bahwa emisi CO2 rata-rata per tahun mobil plug-in hybrid, sekitar 2,5 kali lebih tinggi dari hasil uji emisi resmi. Bukankah hal mengejutkan yang kita dapat dari kendaraan yang diklaim menjadi model paling pas menuju era elektrifikasi global justru menghasilkan polusi yang lebih banyak.

Kenyataan Lapangan

Kenyataan dari perpaduan dua mesin yang dapat menggunakan dua jenis sumber energi (bbm dan listrik) tentu diharapkan menjadi sebuah solusi di tengah keterbatasan infrastruktur mobil listrik. Kinerjanya memang masih bergantung pada minyak bumi. Tapi dengan adanya bantuan kerja motor listrik sebagai pelengkap mesin biasa semestinya konsumsi bbm jauh berkurang.

Tapi fakta mengungkapkan melalui studi ini dan terdengar sangat logis. Alasan mengapa pemakaian bahan bakar tetap tinggi, karena kebanyakan pemilik mobil plug-in hybrid mengabaikan keharusan isi ulang batterai mobil mereka. Mereka malah pilih isi bensin layaknya mobil konvensional sehingga tak mendapat keuntungan dari sistem mesin ganda itu. Artikel menarik lainnya  Kebijakan Istimewa Kendaraan Listrik

Lalu karena Mobil plug-in hybrid menggunakan 2 model mesin, mesin pembakaran dalam konvensional dan motor listrik. yang harusnya memiliki bobot lebih berat dari mobil dengan satu mesin. Belum lagi dengan ukuran baterai yang besar, pasti menyumbang bobot besar pula. Sehingga menghasilkan penggunaan bahan bakar yang lebih boros untuk melaju.

Seperti yang dikatakan Ewa Kmietowicz dari Committee on Climate Change, “Jika men-charge dengan benar, mobil plug-in hybrid mampu menyelesaikan mayoritas perjalanan memakai mode berkendara listrik. Namun, ada kekhawatiran mobil PHEV tidak digunakan sebagaimana harusnya, mencapai hanya sepertiga perjalanan dalam mode listrik dan berisiko emisi lebih tinggi.”

Mobil Listrik Plug-in Hybrid

Tanggapan

Menanggapi hal tersebut pihak pabrikan berusaha membela diri. Narasumber Mitsubishi mengatakan kepada Telegraph, Outlander PHEV sebagai plug-in hybrid mereka yang paling laris, dan telah melewati pengetesan emisi dan konsumsi bahan bakar saat kondisi baterai penuh.

Tapi terlepas dari mana yang paling benar dan apakah akan jadi polemik, mobil PHEV saat ini tengah bersinar dan diperkirakan terus tumbuh. Prediksinya penjualan PHEV di Eropa akan melonjak dari 220 ribu unit menjadi 590 ribu unit tahun. Keringanan pajak dan rasa tanggung jawab tinggi soal lingkungan, membuat banyak orang beralih ke PHEV sebelum menuju mobil listrik murni.

Namun ada juga yang menarik dari hasil studi The Miles Consultancy. Seolah mereka mendukung kebijakan pemerintah Inggris Raya yang membuat heboh belakangan hari. Dengan dimulai pada tahun 2035, yang mana semua mobil bermesin internal combustion (termasuk hybrid), akan mulai dilarang di dataran Inggris. Penerapan larangan tersebut dipercepat dari target awalnya pada tahun 2040.

sumber : Dailymail UK dan Telegraph UK